***

Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

3/19/2021

Tipikal Ulama Kontemporer Abad 20

 


Tipikal ulama kontemporer yang memiliki kesamaan dalam hal pemahaman terhadap ajaran syar'i lewat 3 prinsip ; Simple, Praktis & Komprehensif


MESIR

- Syekh Ahmad Musthafa Al-Maraghi (1883 - 1952) ; Tafsir Al Maraghi


- Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'râwi (1911– 1998) ; Majmul Fatawa 


- Syaikh  Sayyid Sabiq (1915 - 2000); Fiqh al-Sunnah


- Syekh Dr. Yusuf al-Qaradawi (1926- s.d sekarang); Fiqh Zakat  


SYIRIA/ SURIAH


- Syaikh  Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi. (1929-2013) ; Syarah Hikam, Dhowabitul Maslahah


- Syekh   Wahbah Az-Zuhaili, (1932-2015), Fiqih Islam wa Adillatuhu 


- Syekh Muhammad Ali Ash Shabuny, (1930-2021) ;  Shafwatut Tafasir dan Tafsir Ayatul Ahkam 


INDONESIA


- Buya HAMKA, (1908 - 1981); Tafsir Al Azhar


- K.H. DR.  Amin Bunyamin,. Lc. Hc. (1940 - 2012) 


 - K.H. Maimun Zubair, (1928-2019); Al-Ulama’ Al-Mujaddidun


- Tridente : Ustadz Abdussomad- Ustadz Adi Hidayat - Gus Baha



nb :

Antara Rumah Guruku dan Bupati Garut

Ulama Besar Abad 21 Syekh Muhammad Ali Ash-Shobuni Meninggal Dunia



10/15/2017

Karir Militer Jenderal Besar TNI (Purn.) H. M. SOEHARTO



8 Juni 1921
lahir di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta dari pasangan Kertosudiro, seorang petugas Irigasi & Sukirah, anak Petani
--
Sekolah SD di Pedes (Yogyakarta), menekuni semua pelajaran, terutama berhitung
usia 14 tahun tinggal di rumah Hardjowijono, teman ayahnya dan murid Kiai Darjatmo, tokoh ulama Wonogiri
--
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta
1 Juni 1940
diterima sebagai siswa di sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah.
1942
diterima di Koninklijk Nederlands Indisce Leger (KNIL) / tentara kerajaan Belanda. berpangkat sersan Saat Perang Dunia II berkecamuk
1945
letnan kolonel PETA (tentara Jepang)
5 Oktober 1945
resmi menjadi anggota TNI
1946
letnan kolonel Brigade Garuda Mataram; pasukan penumpasan pemberontakan Andi Azis di Sulawesi
--
Komandan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) Sektor Kota Makassar yang bertugas mengamankan kota dari gangguan eks KNIL (belanda)
1 Maret 1949
Sebagai Letkol Brigade 10 memimpin serangan umum di Yogyakarta atas perintah Panglima Besar Jend. Soedirman
1 Maret 1953
Komandan Resimen Infenteri 15 dengan pangkat letnan kolonel
1 Januari 1957
Kolonel Staf Panglima Tentara dan Teritorium IV Diponegoro di Semarang
17 Oktober 1959
dipecat oleh Jenderal Nasution sebagai Pangdam Diponegorot akibat ulahnya yang diketahui menggunakan institusi militernya untuk meminta uang dari perusahaan-perusahan di Jawa Tengah
Atas saran Jenderal Gatot Subroto, dipindahkan ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung.
1960
mengikuti kursus C SSKAD (Sekolah Staf dan Komando AD) di Bandung, dan pada 1961 diangkat sebagai Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat di usia 39 tahun
1 Oktober 1961
Sebagai Panglima Korps Tentara I Caduad (Cadangan Umum AD) juga Panglima Kohanudad (Komando Pertahanan AD). Berangkat ke Beograd, Paris dan Bonn (Jerman) sebagai Atase Militer Republik Indonesia.
1 Januari 1962
Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dan merangkap sebagai Deputi Wilayah Indonesia Timur di Makassar
1962
ditarik ke markas besar ABRI oleh Jenderal A.H. Nasution dan di pertengahan tahun diangkat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) hingga 1965
2 Januari 1962
sebagai Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat
1 Mei 1963
sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), ia membentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) untuk mengimbangi G-30-S yang berkecamuk pada 1 Oktober 1965.
1965
- dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat
menggantikan Jendral Ahmad Yani yang gugur di tangan PKI. juga menjabat sebagai Pangkopkamtib yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno pada waktu itu.
- membubarkan PKI dan ormas-ormasnya
11 Maret 1966
Berbekal Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberikan kewenangan dan mandat kepada Soeharto untuk mengambil segala tindakan untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Keputusan yang diambil Soeharto adalah segera membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sekalipun sempat ditentang Presiden Soekarno, penangkapan sejumlah menteri yang diduga terlibat G-30-S
12 Maret 1966
-menyatakan PKI sebagai partai terlarang di Indonesia
-mengakhiri konfrontasi dengan Malaysia
1 Juli 1966
menerima kenaikan pangkat sebagai jenderal bintang 4
12 Maret 1967
ditetapkan sebagai pejabat presiden setelah pertanggungjawaban Presiden Soekarno (NAWAKSARA) ditolak MPRS.
27 Maret 1968 Ditetapkan menjadi presiden sesuai hasil Sidang Umum MPRS (Tap MPRS No XLIV/MPRS/1968). Ia juga merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan/Keamanan.
1 Juni 1968
dimulainya Orde Baru. Susunan kabinet yang diumumkan pada 10 Juni 1968 diberi nama Kabinet Pembangunan "Rencana Pembangunan Lima Tahun" I, dan pada 15 Juni 1968, Presiden Soeharto membentuk Tim Ahli Ekonomi Presiden yang terdiri atas Prof Dr Widjojo Nitisastro, Prof Dr Ali Wardhana, Prof Dr Moh Sadli, Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo, Prof Dr Subroto, Dr Emil Salim, Drs Frans Seda, dan Drs Radius Prawiro.
====
Tambahan :
1985
Beliau menyerahkan bantuan satu juta ton padi kering (gabah) dari para petani untuk diberikan kepada rakyat Afrika yang mengalami kelaparan.Produksi besar pada tahun itu mencapai 25,8 juta ton. Padahal, data 1969 beras yang dihasilkan Indonesia hanya 12,2 juta ton. Dua Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon dan Ronald Reagan juga memuji gebrakan Soeharto.
8 Juni 1989
Beliau dianugerahi UN Population Award, penghargaan tertinggi PBB di bidang kependudukan.
Di ASEAN, beliau dianggap berjasa ikut mengembangkan organisasi regional ini sehingga disegani di dunia. “Tanpa kebaikan dan kehadiran Soeharto, kami akan menghabiskan banyak jatah belanja negara di bidang pertahanan,” ujar Perdana Menteri Australia Paul Keating saat itu.
1995
Berkunjung ke Balkan dalam usaha perdamaian antara Bosnia dan Serbia. Setelah bertemu Presiden Kroasia Franjo Tudjman, di Zagreb, Presiden Soeharto melanjutkan perjalanan ke Sarajevo (ibu kota Bosnia Herzegovina). Sebagai catatan beliau bersama rombongan melewati Sniper Valley (medan baku tembak) tanpa rompi pengaman dan topi baja untuk menemui Presiden Alija Izetbegovic di istananya.
----



========
Sumber 3

3/31/2015

Mengenang Pemimpin Bersahaja, Tuan Guru Nik Abdul Aziz







Ulama yang menguasai bahasa Arab, Inggris, Tamil, Urdu, Siam, hingga China ini telah tutup usia pada 12 Februari 2015




NIK Abdul Aziz bin Nik Mat, yang akrab dipanggil Tuan Guru, dilahirkan pada tahun 1931 di kampung Pulau Melaka, Kota Bharu Kelantan, Darul-Naim. Pendidikan awal ia dapat dari Madrasah Ittifaqiyah Jertih, Terengganu. Setelah selesai pendidikan tingkat menengah, tahun 1952 ia lanjut kuliah di Deoband Darul Ulum India, Fakultas Islamic Study, lalu ke Universitas Lahore Pakistan tahun 1957. Belum puas, ia melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir, dan meraih gelar diploma, lalu magister Syariah Islamiyah pada tahun 1962.

Ulama yang menguasai bahasa Arab, Inggris, Tamil, Urdu, Siam, hingga China ini telah tutup usia pada 12 Februari 2015. Karena itu, demi mengenang kiprah Tuan Guru sebagai politisi tulen dan ulama sejati, maka, saya kembali mengangkat kisah hidupnya. Ini adalah tulisan kedua di Tribun Timur. Tulisan pertama saya tentang beliau adalah “Jika Ulama Jadi Umara”,  (TRIBUN TIMUR. 18/01/2013).

Karena sudah banyak yang menulis kiprah Tuan Guru dalam sisi politik yang bernuansa politis, maka fokus saya mengungkap sisi keilmuan beliau yang memang saya kenal sebagai ulama. Seorang ulama memiliki beberapa kriteria, selain menjadi contoh dalam ketakwaan, ia juga harus menampakkan keilmuannya dengan mengajar dan menulis.

Semua kritaria tersebut ada pada Tuan Guru, bahkan selama menjabat sebagai pengarah partai oposisi terbesar di Malaysia, Partai Islam Semalaysia (PAS) dan juga sebagai Menteri Besar (Gubernur) Kelantan selama 20 tahun lebih, ia tetap mengajar. Bahkan halaqah ilmiah bulanannya, pada awalnya hanya dihadiri 40 jamaah, berkat kesabaran, keuletan, dan keilmuan yang dimilikinya, menjelma menjadi sebuah jamaah cukup banyak, 40 ribu lebih. Mereka datang bukan ingin mendengar ceramah politik, sebagaimana yang terjadi pada pemimpin politik, akan tetapi untuk meneguk lautan ilmu dari Tuan Guru.

Selain mengajar, Tuan Guru, sebagai ulama muktabar, sangat produktif, menulis ragam disiplin keilmuan, seperti, Tafsir, Hadis, Tasawuf, Sejarah, Fikih, Tauhid, dll. Beliau juga seorang kolumnis dalam Tabloid “Harakah Daily” yang terbit mingguan dan berfungsi sebaga corong informasi aliansi oposisi Malaysia. Tulisannya yang berjumlah ratusan episode itu telah dibukukan menjadi dua jilid, salah satunya, “Sirah Nabawiyah: Insan Teladan Sepanjang Zaman, Kuala Lumpur, 2004″, dalam kata pengantar pengarang, Tuan Guru menulis, Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk menjadi panduan bagi umatnya.

Bagaimanapun, manusia tidak memiliki kemampuan menafsirkan kandungan Al-Qur’an–jika tidak didukung dengan ilmu-ilmu tafsir. Antara tujuan mempelajari sirah Nabi Muhammad adalah agar mendapat dukungan besar untuk memahami Kitab Allah dan mengecapi ruh Al-Qur’an. Selain itu, ia menjadi media untuk mengumpulkan sebanyak mungkin sumber informasi dan pengajaran Islam, baik yang berhubungan dengan akidah, hukum syariat, atau yang berhubungan dengan akhlak yang menjadi budaya asli dalam kehidupan manusia untuk selamanya.

Tidak mungkin–lanjut Tuan Guru–kesejahteraan masyarakat akan terwujud jika tidak beriman kepada Allah dan hari kiamat. Amar ma’ruf nahi mungkar semestinya dilakukan, dan semua itu tidak sempurna jika akhlak yang baik tidak terwujud.

Tuan Guru melalui Partai Islam Semalaysia berusaha menerapkan syariat Islam secara totalitas, namun sayang, karena penerapan Syariat adalah wewenang pemerintah Pusat Malaysia yang dikuasai Barisan Nasional yang beraliran nasionalis, maka syariat Islam di Kelantan, khususnya masalah jinayah (hudud), belum terlaksana.

Namun, perjuangan Tuan Guru terus berlanjut. Bahkan, dalam tulisan-tulisannya, kerap kali membesarkan hati pengikutnya dengan mengangkat kisah-kisah inspiratif. Misalnya, ketika Rasulullah dan para sahabatnya di Makkah terus-menerus dikejar, disiksa, dan dibunuh. Justru Nabi memberi semangat bahwa, suatu saat, umat Islam akan menaklukkan peradaban besar yang sedang menjadi adikuasa, Persia dan Romawi.

Padahal, secara realitas, Persia yang beragama Majusi dan penyembah api itu adalah negara raksasa yang kerap mengalahkan Romawi yang beragama Kristen dalam peperangan, begitupula sebaliknya. Sedangkan Islam, saat itu hanya memiliki beberapa pengikut yang tidak diperhitungkan, jangankan Persia dan Romawi, penduduk Makkah sekalipun.

Dan, kebenaran sabda Nabi kelak terbukti, walau harus menunggu 30 tahun setelah ia wafat. Karena itu, lanjut Tuan Guru, tantangan dan rintangan dalam berdakwah dan menegakkan syariat haruslah dilihat kecil, karena tak seberapa dibanding cobaan di zaman Nabi.

Menurut ulama zuhud ini, penaklukan Persia, selain menggunakan kekuatan taktik dan militer Islam, kekalahan Persia dipermudah dengan adanya konflik internal negara raksasa itu, berupa perebutan kekuasaan antara ayah sebagai raja dan anak sebagai putra mahkota. Sang raja mati dibunuh putranya, dan sang anak, juga mati karena perangkap racun yang telah dipasang oleh ayahnya. Kedunya mati karena rakus kekuasaan.
Tok Guru hidup sederhana walaupun mampu hidup mewah. Bahkan, menjadikan politik sebagai media menebar ilmu, hikmah

 

Di saat yang sama–tulis Tuan Guru–sebelum kematiannya, Raja Persia telah memerintahkan gubernur Yaman sebagai tanah jajahannya, agar mengirim polisi ke Madinah untuk menangkap Nabi Muhammad, menurut Raja Penyembah api itu, Nabi telah menjadi sumber masalah dan kekacauan di Yaman, rakyat banyak membangkang gara-gara tertarik dan menjadi pengikut Rasulullah.

Ketika dua polisi utusan Gubernur Yaman tiba di Madinah untuk menangkap Nabi atas perintah Raja Persia, justru Nabi memberitahu mereka berdua, bahwa tidak ada gunanya melakukan titah sang raja, sebab raja mereka sudah pun mati tepat pada hari ini.

Sekembalinya ke Yaman, dua polisi tersebut justru membawa kabar dari Nabi bahwa raja mereka di Persia telah pun mati dan tidak ada gunanya menjalankan perintahnya, kabar kematian sang raja ternyata justru datang dari Nabi, gubernur heran, lalu mereka pun berpikir untuk mengubah kayakinan dan peta politik, (Nik Abdul Aziz Nik Mat, 2004: 431-432).

Dalam hal ibadah, ketakwaan, dan zuhud, Tuan Guru adalah contoh utama ulama saat ini. Pernah, ketika ia di hotel, sahabatnya meminta agar beliau tidur di atas kasur empuk (springbad), ia malah menjawab, Saya lebih baik tidur di atas sajadah ini, agar dapat dengan mudah bangun menunaikan salat tahajjud, tidur di tempat yang empuk akan mempersusah kita bangun beribadah.

Beliau hidup dalam kesederhanaan, mengenakan baju jubah dan sorban di kepala. Rumahnya pun hanya rumah kayu kampung tidak berpagar dan tidak pula dijaga polisi atau Satpol sebagaimana kepala daerah di Indonesia. Kerap dijumpai salat dalam keadaan gelap di kantornya, sebab lampu dipadamkan karena itu milik negara, sementara salat adalah urusan pribadi. Dan uniknya, siapa pun boleh bertemu dengannya. Orang-orang India dan China di Kelantan sangat cinta pada Tuan Guru.

Hal itu terwujud karena kesederhanaan dan contoh kongkrit yang ia berikan kepada rakyat. Padahal, kalau kita mau jujur, Kelantan adalah negara bagian yang paling terbelakang pembangunannya di Malaysia, sebab pemerintah pusat tidak sudi memberi bantuan pada negari yang dipimpin Tuan Guru yang berasal dari partai opisisi. Pada tahun 2009, menurut The Malaysian Insider Tuan Guru rahimahullah ditempatkan sebagai 50 tokoh Islam paling berpengaruh di dunia dan terdaftar dalam buku, “The 50 Most Influential Muslims”.

Kisah inspiratif di atas telah menjadi contoh nyata bahwa politik tidak semestinya dianggap kotor dan bernajis. Dan dunia ini, bukanlan seonggok bangkai sebagaimana paham sebagian kaum sufi, melainkan, mazra’atul-akhirah, tempat bercocok tanam agar dipetik di akhirat kelak, dan politik adalah tanaman terbaik, karenanya dapat dijadikan sebagai investasi dakwah sebagaimana dicontohkan Tuan Guru. Beliau hidup sederhana walaupun mampu hidup mewah. Bahkan, menjadikan politik sebagai media menebar ilmu, hikmah, dan kabajikan.

Saya tutup tulisan ini dengan mengutip perkataan Tuan Guru; “Kalau kita menanam lada, 40 hari akan dapat hasil, lansung bisa dijual, menanam terung, dua-tiga bulan dapat hasilnya, tapi keuntungan tidak besar karena itu hanya proyek kecil-kecilan. Jika proyek yang lebih besar seperti menanam karet, bukan 40 hari tetapi memakan waktu tahunan. Semakin besar sebuah proyek, semakin besar untungnya.”

Begitu pula pahala yang merupakan proyek paling besar, untungnya sangat besar, jadi sesuailah dengan menunggu begitu lama, yaitu setelah kematian baru dituai hasilnya. Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, alumni terbaik Fakultas Tafsir Arabic-Islamic College of Al-Ihsaniyah, 2005, Penang-Malaysia

-- http://www.hidayatullah.com/artikel/opini/read/2015/02/27/39567/mengenang-pemimpin-bersahaja-tuan-guru-nik-abdul-aziz-

-- Bintang Syurga : Tribute to Almarhum Tuan Guru Nik Abdul Aziz Nik Mat (1931-2015) ᴴᴰ - YouTube
https://www.youtube.com/watch?v=PGKK8cUAwC0