***

7/28/2012

Kualitas Kedelai kita lebih baik

http://groups.yahoo.com/group/kisunda/message/56722
Pakar tempe asal Inggris Jonathan Agranoff menilai kedelai Indonesia jauh lebih berkualitas dibandingkan kedelai impor asal Amerika Serikat.

"Keunggulan kedelai Indonesia adalah tidak modifikasi genetik, organik, rasa kedelainya enak sekali, air rendaman kedelainya pun jernih," katanya di Jakarta, Rabu (25/7). Dia membandingkan kualitas kedelai lokal dengan kualitas
kedelai asal AS.

Dikatakannya, Australia dan negara-negara Eropa enggan mengimpor kedelai dari AS karena dugaan modifikasi genetik.

"Australia dan negara-negara di Eropa tidak mau mengimpor kedelai dari AS karena diduga genetik modifikasi (GM), karena kedelai GM itu punya dampak negatif pada kesehatan," katanya.

Jonathan menyebutkan ada 14 jenis kedelai lokal yang berkualitas dari Indonesia, yakni Wilis, Argomulyo, Burangrang, Anjasmoro, Kaba, Tanggamus, Sinabung, Panderman, Detam-1, Detam-2, Grobogan, Gepak Ijo, Gepak Kuning, SHR/Wil-60.

Menurut dia, penggunaan kedelai lokal lebih menguntungkan dibandingkan kedelai impor.

Dia mencontohkan satu kilogram kedelai Anjasmoro bisa menghasilkan 1,74 kilogram tempe. Sementara satu kilogram kedelai AS hanya menghasilkan 1,59 kilogramtempe.

"Kenapa Indonesia tidak bangga dengan kedelai unggul asal Indonesia?" katanya.

Sementara itu kenaikan harga kedelai impor saat ini mencapai 35%. Pada Januari 2012 harganya masih Rp5.500 per kilogram, lalu dari Maret hingga Juni harganya naik menjadi Rp6.700 per kilogram.

Seperti dikutip situs resmi Kementerian Perdagangan, harga kedelai impor saat ini telah menyentuh harga diatas Rp8.500.

Banyak pedagang dan produsen tahu tempe di Jakarta mogok berjualan selama tiga hari sejak 25 Juli sehingga stok tahu dan tempe di beberapa pasar nyaris kosong. Aksi mogok itu disebabkan naiknya harga kedelai akibat gagal panen kedelai di AS.

Berdasarkan data Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), total konsumsi kedelai Indonesia mencapai 2,4 juta ton per tahun. Sementara produksi kedelai dalam negeri hanya mampu memproduksi 700.000 ton per tahun sehingga sisanya sebanyak 1,7 juta ton ditutup dari impor.

7/27/2012

Pray For Sumedang


***

Mga Kota 'BANYAK TAHU' Tak Menjadi Kota 'TIDAK TAHU'


SUMEDANG, Pikiran Rakyat.- Para perajin tahu tempe di Sumedang, kemungkinan besar tidak akan mengikuti aksi mogok produksi sementara, dari tanggal 25 Juli hingga 27 Juli nanti.

Hal itu, seperti terungkap dalam surat edaran yang dilayangkan Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) Jabar kepada Kopti Kab. Sumedang, tertanggal 20 Juli 2012 lalu. Surat edaran itu, merupakan keputusan Rapat Anggota Tahunan, Puskopti Jabar, 5 Juli 2012

“Terlalu berat, kalau para perajin harus menghentikan produksinya sementara. Sebab, dampaknya akan luas. Tak hanya dirasakan oleh para perajin saja, melainkan juga oleh pedagang dan konsumen. Seandainya produksi sampai terhenti, kehidupan mereka akan terganggu. Oleh karena itu, kemungkinan besar para perajin maupun pedagang tahu tempe di Sumedang, besok tetap akan beraktivitas seperti biasanya,” kata Sekretaris Kopti Kab.Sumedang, H. Rahmat Iriana ketika ditemui di kantornya, Selasa (24/7)

Menurut dia, terlalu berat jika para perajin sampai menghentikan sementara produksi tahu dan tempenya. Sebab, jika mereka menghentikan produksinya, berarti mereka tidak mempunyai penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dampak lainnya, kebutuhan konsumen pun akan terganggu.

“Belum lagi nasib para karyawannya dan pedagang, seandainya produksi berhenti. Apalagi perajin tahu tempe di Sumedang cukup banyak hingga 297 orang, yang 70 persennya perajin tahu sumedang. Nah mereka mempunyai otoritas sendiri, sehingga kita tidak bisa melakukan intervensi terlalu jauh, apalagi terkait produksi. Lagi pula, tidak semua perajin anggota kita,” kata Rahmat didampingi Bendahara, Daskum..

Terkait kenaikan harganya, kata dia, ketika harga kedelai impor naik, tanpa disuruh pun para perajin sudah langsung mengurangi ukuran tahu tempenya. Apalagi kenaikan harga kedelai, sudah berlangsung lama sejak Juni lalu.

Perkembangan terakhir, dari harga pada Sabtu, (21/7) lalu Rp 7.700 per kg, kini melonjak menjadi Rp 7.900 per kg. Bahkan harga di daerah pelosok bisa mencapai kisaran Rp 8.000-Rp 8.100 per kg karena ditambah ongkos transportasi.

“Jadi kalau harga kedelainya naik, otomatis para perajin menyiasatinya dengan mengurangi ukurannya. Kalau menaikan harga jual, terlalu berat bila melihat daya beli masyarakat saat ini,” ujarnya.

Lebih jauh Rahmat menjelaskan, alasan kenaikan harga kacang kedelai impor Amerika Serikat akibat terjadi kemarau panjang, kapal dihadang cuaca buruk di laut atau pun harga dolar naik, dinilai hanya dalih para importir saja.

Yang pasti, kenaikan harga tersebut dipicu akibat buruknya tata niaga kedelai di dalam negeri. Sebab, tata niaga kedelai impor dari hulu sampai hilir dikuasai para importir Cina.

“Semestinya, pemerintah harus kembali memegang kendali tata niaga impor kedelai di dalam negeri. Perbandingannya, minimal pemerintah 60 persen, sementara importir 40 persen. Dengan begitu, harga kedelai impor bisa dikendalikan. Nasib, para petani lokal maupun perajin tahu tempe bisa tertolong. Kalau penghapusan bea masuk dari 5 persen menjadi 0 persen, saya tidak setuju. Sebab, pengaruhnya hanya sementara untuk menambah pasokan saja. Secara jangka panjang, bea masuk 0 persen itu hanya akan dinikmati importir saja,” tuturnya. (A-67/A-89)***


at pic