***

12/21/2017

Quantum 212

 "Air, Api, Tanah, dan Udara, dahulu keempat negara hidup dengan damai, namun semuanya berubah saat negara api menyerang. Hanya Avatar yang mampu mengendalikan keempat elemen yang dapat menghentikannya. Namun saat dunia membutuhkannya dia menghilang. Beratus tahun kemudian aku dan kakakku menemukan seorang avatar muda yang baru. Seorang pengendali udara bernama Aang. Walaupun ilmu pengedalian udaranya sangat bagus, namun dia masih butuh banyak waktu untuk bisa menguasai semuanya, Tapi aku yakin, Aang dapat menyelamatkan dunia".

 Narasi di atas adalah scene pembuka dari sebuah serial animasi yang tayang di tv swasta AN Teve tahun 2008-2009 lampau. Saya tak hendak membahas seri kartun berlatar negeri china tersebut, namun ceritanya begitu mirip dengan peristiwa akbar dalam sejarah indonesia di abad milenia ini; Aksi Damai 212.

Meski dilatarbelakangi oleh ucapan SARA seorang pejabat publik, namun saya melihatnya sebagai sebuah komplikasi dari semua permasalahan yang menimpa bangsa ini. Jauhnya gap antara si kaya dan si miskin, wakil-wakil rakyat yang mengkhianati amanat, para penjajah model baru yang datang berkedok investor, hingga  pertikaian antar organisasi baik yang berbasis agama maupun non agama yang begitu akut. Umat muslim di negeri ini sama persis yang digambarkan Nabi Shallalohu alaihi wasallam dalam sebuah hadits” .. jumlah kalian saat itu banyak, namun bagai buih di lautan… “ 

Syahdan, meminjam ucapan Ust. Erick Yusuf di situs republika , Buih-buih itu, kini berubah menjadi ombak besar yang sanggup menelan apa pun di sekitarnya. Atau bagai setangkai lidi yang terserak menemukan kelompoknya kembali. Dia telah berubah menjadi sapu yang kuat. Yang sanggup menyapu kemungkaran di hadapannya.

Ya...umat Muslim Indonesia seakan menemukan semangat persaudaraan yang lama hilang. Yang telah lama ditelan ruwetnya rutinitas dan hiruk pikuk keduniaan.

Peristiwa 212 yang bersejarah bagaikan sebuah tombol detonator 'bom waktu' yang telah ditekan untuk meledakkan seluruh potensi positif. Kebaikan dan sekaligus kebangkitan umat Islam.

Bukan hanya nusantara, tapi juga dunia. Karena, sesungguhnya, dunia menyaksikan aksi superdamai (Aksi Bela Islam III) yang dilakukan umat Islam Indonesia. Dunia menjadi saksi telah terjadinya shalat Jumat berjamaah terbesar sepanjang sejarah. Dunia menjadi saksi bangkitnya kesadaran umat Islam Indonesia dengan memperlihatkan kegigihannya dalam menegakkan keadilan di muka bumi dengan cara yang ma'ruf, yang elegan, yang sangat Islami.

Revolusi kebangkitan telah dimulai. 'Raksasa' yang tertidur mulai menggeliat bangun. Tentu kita harus lebih bekerja keras memperbaiki diri. Mulai dari hal-hal yang kecil, dari aktivitas keseharian, dari banyak hal yang diremehkan.

Maka saksikanlah, mesjid-mesjid kini penuh, kajian-kajian pemuda semarak kembali, pun ikatan tenggang rasa yang lama hilang itu telah ‘pulang kembali’ ke negeri ini.
Untuk itu mari kita masuk ke dalam arus perubahan. Karena, semua yang terlambat akan tertinggal dan semua yang mengadang akan terhempas. Kekuatan apapun itu tidak ada yang akan sanggup menghalanginya.

Wallahul musta’aan

.=============================================

Berikut saya publish foto-foto yang merupakan dampak dari Aksi Damai tersebut, yang mungkin sewaktu-waktu saya update seiring postingan-postingan yang saya temukan.  Insya Allah.

- - -
Berjamaah shubuh dikuti kajian
Mobil hijrah

Hapus Tatto


Pedagang baca quran

Budaya menjamu peserta aksi (ikromu dhuyuf)



Budaya berjalan kaki menuju tempat aksi, serasa menemukan kenikmatan spiritual tersendiri dalam melakukannya.. mengingatkan kita akan para pejuang negeri ini dimasa lampau yang berjalan berkilo-kilo ke Jogjakarta demi menyelamatkan eksistensi negara. Terkini ada aksi naik sepeda pula dari keluarga cemara asal Tangerang dan 2 remaja asal Banyuwangi.


- -

 Di Jalan Yos Sudarso Kav 28 Jakarta, di sebelah kiri, tepatnya di samping gerbang utama gedung bertingkat PT Citra Marga Nusa Pala, berdiri sebuah rumah makan murah meriah dengan lauk mewah. Bagaimana tidak, hanya dengan membayar Rp 3 ribu, pembeli bisa menikmati menu nasi dengan aneka lauk pauk yang sangat menggugah selera.
Warung istimewa ini bernama Podjok Halal, berdiri di bawah tenda biru berdampingan dengan pohon kelapa yang menjulur tinggi ke atas. Suasana semakin asri dengan adanya tanaman-tanaman yang melingkari bangku pengunjung.
Warung ini merupakan milik seorang pengusaha Tionghoa muslim bernama Jusuf Hamka.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar