***

6/03/2014

Meraih Kemuliaan Isra Miraj





   
TANGGAL 27 Rajab kita sama-sama rayakan untuk memperingati  Isra Miraj. Itulah hari yang membawa Nabi Muhammad SAW mencapai kemuliaannya. Nabi Muhammad merupakan satu-satunya manusia yang bisa bertemu Allah SWT ketika masih hidup.

Perjalanan Isra Miraj bukan hanya membawa Nabi Muhammad berjalan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Jerussalem, tetapi juga melakukan perjalanan spiritual bertemu Sang Maha Pencipta. Dari beberapa kali pertemuan, Nabi Muhammad kemudian mendapat perintah untuk menjalankan salat lima waktu bagi dirinya dan juga pengikutnya kemudian.

Semua perjalanan itu dilakukan dalam satu malam. Malaikat Jibril yang menemani perjalanan Nabi Muhammad pada malam itu, namun hanya Nabi Muhammad  yang mendapat kesempatan untuk bertemu dan berbicara langsung dengan Yang Maha Kuasa.

Umat Islam yang menjadi pengikut Nabi Muhammad diwajibkan untuk menjalankan perintah-Nya. Kewajiban untuk melaksanakan shalat merupakan kunci bagi kita menuju kesempurnaan dan kemuliaan sebagai manusia.

Kemuliaan sebagai manusia itu terletak pada kemampuan kita untuk memanusiakan sesama. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita diwajibkan untuk menghormati sesama manusia dan bahkan untuk saling tolong menolong.

Kita tidak boleh memperolok sesama manusia. Segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada setiap manusia merupakan rahasia-Nya. Kita tidak diperkenankan untuk mencelanya.

Ketika kita memeringati Isra Miraj tentunya jangan hanya seremoninya yang kita lakukan. Yang terlebih harus melekat pada keseharian kita adalah teladan yang diberikan Nabi Muhammad yang dikenal sebagai orang yang santun, orang yang penyayang, orang yang peduli, tetapi juga dikenal tegas.

Bangsa Indonesia dulu dikenal juga sebagai bangsa yang ramah. Tutur kata bangsa Indonesia dikenal lembut dan bersahabat. Kekuatan itulah yang membuat bangsa Indonesia dihormati di dunia.

Setelah era reformasi, kita justru tidak lagi melihat Bangsa Inddonesia yang seperti dulu. Tiba-tiba kita menjadi bangsa yang kehilangan budi pekerti. Seakan-akan tidak ada lagi sopan santun pada diri Bangsa Indonesia.

Memang era reformasi membawa kita kepada kebebasan. Namun kebebasan itu tidak harus membuat berubah, apalagi sampai kehilangan jati diri. Kita seharusnya bisa tetap menjadi bangsa Indonesia yang dikenal selama ini.

Pendiri Maarif Institute, Buya Syafii Maarif melihat bahwa ketiadaan teladan dari pemimpin membuat kita sebagai bangsa kemudian kehilangan jati diri. Kita menjadi bangsa yang berbeda, yang cenderung menjadi kasar dalam tindakan dan ucapan.

Sekarang ini begitu mudah sepertinya kata-kata kasar itu diucapkan. Bahkan kita tidak pernah merasa bersalah untuk menyakiti sesama. Tindak kekerasan begitu mudah terjadi di sekitar kita.

Pada masa pemilihan umum seperti sekarang, kita melihat begitu marak munculnya kampanye hitam. Kampanye yang dilemparkan melalui media sosial bahkan sudah tidak berperasaan untuk menjelek-jelekkan pihak lain yang dianggap sebagai lawan.

Kalau kita mengimbau agar cara-cara seperti itu perlu segera diakhiri, karena kita membangun kebebasan bukan untuk tujuan itu. Kebebasan yang kita perjuangkan adalah untuk memperkuat kita dan membawa bangsa ini ke arah kemajuan.

Persaingan yang terjadi bukan harus saling melemahkan. Persaingan itu harus dipakai untuk memacu kita menghasilkan karya yang lebih besar. Sebab, dari persaingan yang sehatlah akan dihasilkan karya-karya yang lebih baik.

Kita sungguh mendambakan sebuah Indonesia yang damai, adil, makmur, kuat, dan sejahtera. Untuk itu maka kuncinya terletak pada manusianya. Bagaimana kita melahirkan pribadi-pribadi yang mulia. Peringatan Isra Miraj menjadi salah satu momentum untuk menghasilkan manusia-manusia yang berhati mulia.

 -metro.news/ 27 Mei 2014 

(Jco)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar